My Prioritas ❤️



Assalamualaikum warohmatullahi Wabarokaatuh disini saya akan menceritakan sedikit tentang seseorang yang selalu menjadi penyemangat dalam hidup saya, Ibu adalah motivator yang pertama di dalam kehidupan, saya bangga bisa menjadi anak dari ibu saya karena kasih sayang yang ibu saya berikan untuk saya tidak akan bisa saya balas dengan apa pun walaupun emas yang berlimpah rasanya Juga tidak akan cukup. Perjuangan dari ibu yang saat ingin melahirkan saya dengan penuh kekuatan dan kesabaran yang harus dirasakannya taruhan nyawa bisa ia korbankan demi keselamatan saya. Saya bisa pandai menulis dan membaca itu semua karena pengajaran dari ibu saya yang begitu sabar dalam menghadapi dan mendidik saya dengan kemampuannya, setiap lebaran Ibu rela tidak memakai baju baru demi saya.

Karena prinsip ibu saya yang penting anak-anaknya senang dan tidak kesusahan. Saya sangat sayang kepada ibu saya, semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan kebahagiaan bagi ibu saya. Saat saya masuk pesantren ibu saya selalu mengunjungi saya, bahkan selalu membawakan makanan dan barang kesukaan saya. Pada suatu hari saat Ibu saya mengunjungi saya, Ibu berkata “nak jangan makan sendiri makanannya, berbagi dengan teman-temannya walaupun sedikit”. Banyak sekali nasehat yang selalu ibu saya berikan, mulai dari jaga sholatnya dan harus selalu murah senyum dan ramah terhadap orang.

Ibu saya berharap saya harus terus belajar dan mengejar impian saya, walaupun di antara ke-enam saudara saya, hanya tiga orang yang kuliah namun kedua saudara saya yang kuliah itu tidak memanfaatkan sarjana mereka. Ibu saya berharap saya mewujudkan cita-cita saya yang menjadi guru, jangan cemaskan masalah biaya, kata ibu saya. Ya Allah rasanya saya kasihan sekali melihat keadaan ibu saya yang harus bekerja banting tulang demi Pendidikan saya, tidak tega melihatnya kerja keras demi memenuhi kebutuhan hidup saya. Ibu tidak memiliki pangkat yang tinggi bahkan ibu saya lulusan SD, sejak kecil ibu sudah terbiasa bekerja membantu orang tuanya dengan berjualan, menoreh getah. Bahkan penghasilan yang didapatkan pun hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari sudah cukup bagi ibu saya, masa-masa muda Ibu dihabiskan untuk bekerja dan menyekolahkan adik-adiknya.

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan itu ada dalam benak ibu, akan tetapi keadaan ekonomi yang mendorong ibu untuk memendam keinginannya tersebut, saya salut dengan perjuangan ibu saya bekerja demi mewujudkan keinginan saya. Dalam pikiran saya ingin sekali bekerja meringankan beban orang tua saya, namun ibu berkata kuliah dan wujudkan saja impianmu, jangan memikirkan soal biaya. Ibu saya dulu kawin saat umurnya masih sangat muda 13 tahun, ia sudah memikul tanggung jawab sebagai istri dan ibu bagi anak-anaknya, jika ibu saya menceritakan kisah hidupnya, kadang saya terharu mendengarnya pada saat Ibu saya dikampung keadaannya susah. Jika ketiga saudara saya ingin makan, telur itu digoreng dan dibagi menjadi tiga sedangkan ibu rela tidak makan, saya sangat bersyukur dengan keadaan saya saat ini karena apa pun yang saya inginkan selalu tercukupi bahkan lebih. Pada saat Ibu dikampung ayah saya kerja ke kota demi mencari penghasilan lebih, rasanya tidak tahan menahan air mata di saat saya harus menceritakan setiap pengorbanan dari ibu saya banyak sekali pengorbanan yang dilakukannya bahkan saya pun tak akan sanggup untuk membalasnya. Pernah pada saat saya kecil itu sering sakit-sakitan, demam muntah dan bahkan waktu saya kecil tidak suka dengan susu selain air asi ibu. Penyakit yang paling serius dan dikhawatirkan oleh keluarga saya itu penyakit step atau kejang-kejang yang bisanya diderita oleh anak-anak, tangisan dan kecemasan terpancar di wajah keluarga saya bahkan ibu saya. Penyakit yang saya derita itu terjadi dua kali saat saya kecil, akhirnya saya dibawa ke rumah sakit ibu sayalah yang menggendong, menimang saya. Setiap penyakit itu kambuh ibu saya segera membawa saya ke rumah sakit, karena di gang saya ada anak seumuran saya juga menderita penyakit yang sama seperti yang saya alami, akan tetapi pengobatan yang dilakukannya hanya ke dukun dan diurut


Ibu kalau dalam urusan pakaian, menurut saya orang yang paling cantik dan anggun, karena pakaian yang dipakai tidak terlalu mewah akan tetapi dengan kedermawanan, kesabaran ibu yang membuat ibu saya cantik diluar maupun di dalam. Pakaian apa pun ibu saya tidak pernah memilih, yang penting baginya bisa dipakai untuk menutupi aurat, saat semua anak-anaknya bekerja sedangkan ibu ingin belanja namun tidak yang bisa mengantarnya dan ibu saya tidak mau direpotkan, dan saya juga tidak terlalu lancar dalam menggunakan kendaraan. Akhirnya ibu jalan kaki dan menggunakan kendaraan air seperti sepit atau sampan, kegigihan dari ibulah yang membuat saya belajar untuk menjadi seorang wanita harus kuat dan sabar seperti ibu.

Pada suatu hari bapak saya mengalami hutang, hingga akhirnya belum mampu membayarnya. Dengan keikhlasan dan keberanian ibu saya menjual tanah simpanan hasil kerja kerasnya demi untuk membayar hutang bapak. Bahkan rumah yang saya tinggali saat ini merupakan hasil dari kerja keras ibu saya, dikampung yang bekerja menoreh getah. Ibu kemarin baru-baru ini pernah mengalami penyakit yang sangat parah bahkan penyakit yang dideritanya pernah terjadi disaat umur abang saya yang ke-5 masih bayi.

Penyakit yang ibu saya alami itu penyakit lambung yang sudah sangat parah, mutah dan setiap memakan apa pun pasti muntah, kecuali air. Hanya air satu-satunya dapat dicerna ke dalam perut ibu, merasa sedih akhirnya kami mencoba mengimpus ibu di rumah selama beberapa hari namun tidak ada perubahan bahkan semakin memburuk. Akhirnya kami sekeluarga membawa ibu ke rumah sakit yang besar yaitu rumah sakit sultan Syarif Abdurrahman, perawatan yang dijalani disana sangat baik. Akan tetapi kondisi saat itu masih dalam keadaan di mana setiap orang yang masuk rumah sakit harus di isolasi, karena masih akan dilakukan tes Rapid. Tentu juga dengan ibu yang harus seperti orang yang lainnya, ya mau digimanakan lagi karena sudah menjadi ketentuan rumah sakit.

Alhamdulillah saat Ibu saya sembuh dengan harus selalu menjaga pola makan yang teratur, istirahat yang cukup dan banyak pikiran, karena penyakit itu bukan hanya sekedar dari makanan tapi pikiran Juga. Ibu tidak lupa untuk terus selalu mengingatkan saya walaupun terkadang saya merasa bosan dengan peringatan dari ibu saya, kata ibu jangan mau mengikuti orang lain jadilah dirimu sendiri karena setiap orang ada kelebihannya masing-masing. Rasanya saya sangat takut untuk menjadi seorang ibu, karena ujiannya begitu berat. Bahkan lebih banyak penderitaan yang harus dirasakannya namun itu sudah menjadi kodrat kita sebagai seorang perempuan, dan semoga aku bisa menjadi seperti ibuku aku mencintaimu Bu, tetaplah selalu tersenyum walau banyak cobaan yang menghampiri. Ya Allah semoga engkau selalu melimpahkan kebahagiaan dan ketabahan terhadap ibu saya yang hebat ya Allah, dan saya berharap bisa membahagiakan ibu saya dengan bekerja dari hasil lulusan sarjana saya aamiin ya rabbal a'lamin. Cukup sekian cerita singkat saya tentang ibu saya hebat Terima kasih wassalamu’alaikum warohmatullahi Wabarokaatuh.